Penggunaan senjata kimia oleh Amerika pada perang Vietnam telah membawa dampak yang sangat mengerikan bagi penduduk setempat. Dunia sudah mengetahui bahwa pada tahun 1962 hingga tahun 1971 Amerika telah menggunakan senyawa kimia bernama Agent Orange untuk melawan tentara Vietnam, penggunaan senyawa kimia tersebut akan mengakibatkan kangker, kelainan syaraf dan organ reproduksi.

Kenyataannya ribuan kelahiran di berbagai daerah di negeri ini mengalami kelainan yang sangat mengerikan, kelahiran tidak sempurna yang diakibatkan oleh senyawa kimia ini banyak terjadi pada bayi-bayi Vietnam. Mengenai penggunaan bahan kimia oleh Amerika pada perang Vietnam Sampeyan bisa baca pada bagian bawah posting ini, kebetulan saya peroleh referensinya di Liputan6.com, artikelnya sudah lama memang, namun pasti akan sangat berguna bagi Sampeyan semua yang sedang mencari berita tentang dampak penggunaan enjata kimia oleh Amerika dalam perang Vietnam. Berikut ini foto-foto penderitaan rakyat Vietnam akibat penggunaan senjata kimia oleh Amerika.




















Artikel liputan6.com 20 April 2003

Liputan6.com, Hanoi: Gajah di seberang lautan tampak jelas ekornya. Namun kuman di pelupuk mata seakan tak terlihat sama sekali. Ungkapan itu tentu pas betul buat disandang pemerintah Amerika Serikat. Maklum, Negara Adidaya tersebut sibuk menuding sejumlah negara telah memproduksi senjata kimia dan biologi sebagai alat pemusnah massal. Termasuk terhadap Irak, yang akhirnya berhasil diduduki pasukan koalisi bersama para sekutu. Padahal, bukan cuma Negeri 1001 Malam yang bersemangat memproduksi teknologi pencabut nyawa tersebut. Selama Perang Vietnam, Amerika dilaporkan telah menggunakan sedikitnya tujuh juta liter senyawa kimia, yang dikenal dengan nama Agent Orange. "Bagaimana mungkin Amerika mengklaim ingin melucuti senjata pemusnah massal Irak dengan menggelar perang, sementara mereka sendiri jelas-jelas menggunakannya dalam Perang Vietnam?" tutur Ketua Palang Merah Vietnam Nguyen Trong Nhan, mempertanyakan kembali kebijakan yang ditempuh Negeri Paman Sam, baru-baru ini di Hanoi.
Hingga kini, menurut Nhan, dampaknya terlihat jelas terhadap ribuan anak di Vietnam yang terlahir cacat dan tersebar di sejumlah rumah sakit di Kota Hanoi dan Kota Ho Chi Minh. "Seorang kriminal [dalam kasus ini pemerintah Amerika] tentu tidak mudah mengakui perbuatannya. Karena itulah, masyarakat dunia akan mengutuk semua tindakannya," kata Nhan, geram.
Kemarahan Nhan amat berdasar dan tak berjalan sendirian. Contohnya, bersamaan dengan agresi Amerika ke Irak, Universitas Columbia di New York malah mempublikasikan hasil analisa ulang terhadap catatan militer selama masa Perang Vietnam berlangsung (1961-1975). Laporan itu membeberkan bahwa sedikitnya, militer Amerika sudah menggunakan tujuh juta liter senyawa kimia bernama Agent Orange. Senyawa kimia tersebut mempunyai kekuatan dua kali lebih berbahaya dari racun karsinogen. Akibat yang dihasilkan, sedikitnya 10 ribu bayi terlahir cacat, dan menjadi beban hidup dari generasi ke generasi. "Prioritas Amerika seharusnya bukan melucuti senjata pemusnah massal Irak, tapi justru harus menolong korban senjata kimia Agent Orange yang mereka ciptakan selama Perang Vietnam," kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Vietnam Phan Thuy Thanh.
Harapan pemerintah Vietnam yang dilontarkan Thanh patut disimak betul oleh para petinggi Amerika. Sebab selama invasi Amerika, pemerintah Vietnam memperkirakan sebanyak dua juta warganya telah menjadi korban penggunaan senjata kimia tersebut. Kala itu, pasukan Amerika memakai Agent Orange untuk menyemprot makanan dan mengasapi hutan-hutan yang diduga menjadi tempat persembunyian tentara Vietnam, dengan menggunakan "Patches", pesawat angkatan udara Amerika jenis C-123. Penggunaan Agent Orange dimulai sejak 1962 dan dihentikan pada 1971 lantaran diketahui kemudian mengandung kimia berbahaya dioxin karsinogen, zat pemicu kanker, kelainan saraf, dan mempengaruhi fungsi reproduksi.
Pada 1984, sebenarnya Amerika pernah menyetor dana sebesar US$ 180 juta untuk para korban. Namun sepuluh tahun kemudian, pemerintah Amerika di Washington D.C. memutuskan buat menghentikan bantuan kompensasi ini. Padahal, generasi baru korban kebiadaban senjata jenis herbisida tersebut terus lahir di Vietnam.
Menurut hasil analisa Universitas Colombia tadi, nama senyawa kimia mematikan tersebut diambil dari garis kemasan zat kimia yang berwarna oranye. Senjata yang dibuat perusahaan Amerika Dow Chemical Company dan Monsanto Company ini mampu menyebabkan penyakit leukimia maupun kanker bagi para korban dan keturunannya di kemudian hari.
Agent Orange adalah kode untuk herbisida yang acap digunakan di kawasan beriklim tropis. Senyawa kimia tersebut terdiri dari campuran seimbang antara zat kimia yang diketahui berstruktur 2,4,D dan 2,4,5,T. Selain dioxin, kontaminasi yang dihasilkan dari senyawa tersebut adalah TCDD, yang mengandung dibenzofurans dan pcb. Berdasarkan uji penelitian di laboratorium, TCDD mengakibatkan beragam penyakit, dan beberapa di antaranya berdampak fatal.
Kisah penggunaan senjata kimia versi Amerika bukan hanya milik Vietnam. Sebab borok pemerintah Amerika pernah terbongkar pada Maret 1998, bahwa telah menyebarkan kuman antraks di jaringan kereta api bawah tanah di tengah Kota New York. Jajaran militer memberi pengakuan kepada Kongres pada Desember 1976, bahwa 10 tahun sebelumnya mereka telah menyebar serangan senjata biologi berisi bakteri patogen dan diletakkan pada sejumlah bola lampu di kereta bawah tanah [baca: Antraks di AS, Karma atau Rekayasa?]. Targetnya, untuk memantau efek penyebaran yang terjadi di sepanjang terowongan tersebut. Metode yang tak pernah terbersit di akal sehat itu dimotori seorang pengusung supremasi kulit putih, Larry Harris, yang langsung dibekuk FBI, sepekan sebelum berita soal ini dirilis. Untungnya, aksi tersebut langsung diantisipasi, dan gagal menjangkiti ratusan ribu jiwa.
Ulah tak berprikemanusiaan itu rupanya sudah berulang kali dilakukan Harris. Pada 27 September 1950, ahli mikro biologi itu juga sempat menyebar bakteri yang sama milik Angkatan Laut di Teluk San Francisco. Awan kuman tersebar sepanjang 314 kilometer persegi berpopulasi lebih dari satu juta virus. Eksperimen Harris menewaskan 13 orang, dan dideteksi menderita infeksi katup jantung.
Dari periode 1950 hingga 1966, angkatan bersenjata AS juga kerap menyebar kuman patogen Serratia alias Aspergillus fumigatus. Wilayah korbannya adalah Florida, basis tentara di California, Alabama, Pennsylvania, dan di sekitar kawasan Pentagon, Washington. Hingga 1998, hanya Harris dan rekannya William Leavitt, yang ditahan atas pelaksanaan pembantaian secara biologis itu.
Catatan Amerika dalam menggunakan senjata biologi seperti tadi memang berjalan sejak dekade `50-an. Aksi tadi ikut diujicobakan ke luar negeri, saat menyerang sejumlah kota penting di Korea Utara. Tak hanya itu saja. Sebanyak enam provinsi di Cina: Liaotung, Liaohsi, Sungkiang, Kirin, Heilungkiang, dan Jehol, digempur senjata biologi selama tiga bulan pertama pada 1952. "Peluru" tadi berisi 35 variasi penyakit yang dihasilkan lalat, kutu, nyamuk, jangkrik, kutu gurun, tikus, daging yang sudah terkontaminasi, ikan mati, daun, bulu ayam, yang bisa saling terkontaminasi satu sama lain. Di Vietnam, militer Amerika juga menggunakan mycotoxins (racun fungal). Sementara di Kuba, serangan dilakukan dengan menyebar virus demam buat babi. Hasilnya, 500 ribu ekor babi mati.
Di Irak, sebuah laporan menyatakan serangan biologi pernah disebar Amerika, dan hanya bisa terlacak lewat mikroskop. Kuman yang disebut parasit leishmaniasis alias penyakit pes hitam itu dibuat menempel pada lalat gurun betina. Hasilnya parah. Penyakit tersebut bersarang di sumsum tulang bayi, memakan sel pembentuk darah, menyerang hati, dan limpa. Menurut dokter Alia Sultan di Rumah Sakit Al-Quadisiya, kesempatan hidup buat bayi-bayi yang terinfeksi hanya 10 persen saja. (Sumber)

0 comments:

Post a Comment

Silahkan anda berkomentar atau sampaikan opini anda

 
Top